Image by Scottish Guy from Pixabay
Pendahuluan
Matius 7:24-27 merupakan salah satu ayat yang sering sekali di kotbahkan di gereja lokal manapun, ayat ini sudah over preached. Namun kebanyakan mereka hanya mencomot ayat ini asal-asalan tanpa memperhatikan konteks yang terjadi pada ayat tersebut. Hal ini terjadi karena mereka memakai ayat ini, memakai perkataan Tuhan Yesus untuk penegasan ajaran sesat mereka, supaya jemaat semakin mendengar ajaran menyimpang yang mereka lontarkan dari mimbar mereka. Mereka sama sekali tidak perduli dengan konteks dari ayat ini, mereka hanya mencomot untuk kepentingan diri mereka, lalu apa maksud dari ayat ini? Apa konteks dari ayat ini?
Pembahasan
Matius 7:24-27 mengatakan bahwa jika ada orang yang mendengar dan melakukan perkataan Tuhan Yesus maka mereka menjadi pribadi yang tangguh, bisa bertahan dalam setiap pencobaan, namun jika mereka hanya mendengar saja dan tidak melakukan perkataan Tuhan Yesus maka mereka menjadi pribadi yang lemah, dimana mereka tidak dapat bisa bertahan dalam setiap masalah hidup.
Kita harus ingat bahwa ayat ini berbicara mengenai ketaatan kepada perkataan Tuhan Yesus, bukan kepada ajaran manusia yang asal mencomot ayat alkitab lalu membuatnya menjadi suatu pengajaran. Ajaran-ajaran yang mencuat di gereja lokal tersebut kebanyakan di antaranya adalah para penyesat, kita harus berhati-hati. Jangan kita mendengar ajaran manusia melainkan kita harus mendengar kepada ajaran Kristus. Padahal ayat ini sendiri telah menjelaskan kepada kita bahwa kita harus mentaati pengajaran firman Tuhan, bukan ajaran manusia yang mengatas namakan ajaran Kristus.
Sederhananya saja, jika gereja memang mengajarkan kebenaran maka gereja itu tidak terpecah, gereja akan tetap menjadi satu hingga kedatangan Tuhan Yesus Kristus, ingat kebenaran itu hanya ada satu, ia tidak bercabang menjadi banyak. Seperti matematika yang mengajarkan bahwa 1+1=2, matematika sendiri menunjukkan kebenaran mutlak itu hanya satu, tidak ada hasil lain selain 2 jika 1+1.
Perpecahan gereja adalah bukti bahwa apa yang di ajarkan dalam tubuh Kristus bukanlah kebenaran firman, melainkan pikiran sesat mereka sendiri. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dengan setiap pengajaran yang mereka lontarkan di setiap mimbar. Justru kita sebagai umat Kristus seharusnya mengikuti setiap ajaran Kristus yang sudah jelas tertulis di dalam alkitab, jangan lagi kita mengikuti mereka-mereka yang suka sekali mengandalkan ajaran manusia.
Jadi ayat ini sebenarnya sudah menjelaskan kepada kita bahwa kita seharusnya mengikuti pengajaran Tuhan, bukan perkataan manusia. Lalu dengan demikian maka kita akan menjadi orang-orang yang tangguh, kita akan bisa melawan pencobaan, apalagi jika ada Iblis yang berusaha untuk menggoda kita, maka kita bisa bertahan dengan kebenaran firman, seperti yang di lakukan oleh Tuhan Yesus ketika Ia sedang berpuasa dan di godai Iblis.
Banyak dari mereka yang tidak memperhatikan konteks dari ayat-ayat ini, ayat-ayat ini merupakan kotbah Tuhan Yesus yang di mulai dari Matius 5, Matius 7:24-27 adalah penutup dari pengajaran Tuhan Yesus, dan banyak orang Kristen mengutip dengan asal kotbah Tuhan Yesus ini, mereka melupakan konteksnya, sama halnya dengan mengurangi kebenaran firman Tuhan.
Wahyu 22:19 kitab Wahyu telah memperingatkan bahwa jika kita mengurangi kebenaran firman Tuhan maka kita akan mendapatkan malapetaka dari Allah, dan kebanyakan orang kristen mengurangi isi kotbah dari Tuhan Yesus yang satu ini karena kebiasaan mereka dalam mencomot kebenaran tanpa memperhatikan konteksnya.
Sekarang mari kita memperhatikan setiap pengajaran Tuhan Yesus ini dan mari kita renungkan apakah kita telah mentaatinya? Jika kita mentaatinya maka kita menjadi orang yang tangguh, dapat melewati pencobaan, dan penyesatan. Namun jika kita tidak melakukannya maka kita menjadi orang yang lemah tak berdaya.
Matius 5:1-12 berbicara mengenai ucapan bahagia, di mana orang-orang tertentu akan mendapatkan kebahagiaan, mereka-mereka yang berbahagia ialah mereka yang miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hatinya, pembawa damai, yang dianiaya, mereka-mereka ini di berikan ucapan bahagia oleh Kristus karena ada janji yang akan mereka peroleh.
Ayat 13-16 mengajarkan tentang garam dan terang dunia, dalam ajaran ini Ia mengajarkan bahwa kita harus menjadi terang dunia dengan maksud supaya orang-orang dapat melihat perbuatan baik yang terpancar dari kita dan Allah pun di muliakan dari perbuatan mulia kita. Meskipun kita terbebas dari hukum dan hidup dalam kasih karunia, bukan berarti kita bisa melakukan dosa sesuka hati kita, kita sebagai pengikut Kristus haruslah mentaati kebenaran firman Tuhan, menjadi terang dunia. Namun kenyataannya, apakah orang-orang kristen sudah menjadi terang dunia?
Saya sendiri sebagai seorang kristen telah memiliki pengalaman di mana saya sendiri di hakimi oleh orang kristen, di kucilkan oleh orang kristen, di tekan oleh hamba-hamba Tuhan. Dari pengalaman yang saya lalui justru tidak ada orang kristen hingga kini yang menjadi terang dunia. Meskipun saya adalah korban dari mereka, bukan berarti saya juga telah menjadi terang dunia, saya hanya orang kristen yang berusaha mentaati kebenaran firman Tuhan, jadi terang yang saya miliki ini sangat redup karena di liputi oleh dosa. Saya adalah orang berdosa dan saya mengakui itu, mengapa? Karena meskipun saya berdosa, kemunafikan tidak termasuk dalam dosa-dosa saya, karena saya benci terhadap kemunafikan. Saya apa adanya, mengakui keberdosaan saya, tetapi ingat, saya hanya mengakuinya di hadapan Allah bukan di hadapan manusia, karena manusia hanya menghujat keberdosaan manusia, mereka tidak dapat mengampuni dosa manusia, untuk apa saya mengakuinya di hadapan manusia?
Saudara sendiri renungkanlah apakah saudara sudah menjadi terang dunia? Atau tidak sama sekali? Atau apakah saudara menjadi orang-orang kristen yang tidak menjadi terang dunia? Tidak memiliki kasih di dunia yang penuh dengan kepahitan ini? Mengucilkan saudara seiman? Menjadi serigala dalam domba-domba Allah?
Matius 5:17-48 berbicara mengenai hubungan antara Tuhan Yesus dengan hukum Taurat. Banyak yang mengajarkan bahwa Tuhan Yesus datang kedunia ini tidak untuk membatalkan hukum taurat, ayat 17-18 merupakan dasar keyakinan mereka, namun mereka hanya mencomot kedua ayat tersebut tanpa memperhatikan ayat seterusnya atau tanpa memperhatikan ayat lainnya., sehingga alhasil masih banyak gereja yang hidup di bawah hukum yang tidak dapat menyelamatkan kita ini.
Kata menggenapi dalam teks Yunani ialah pleroo yang berarti untuk memenuhi, untuk melengkapi, menyelesaikan, mencapai, selesai, mengakhiri, dll. Dari arti-arti tersebut maka kedatangan Tuhan Yesus itu untuk mengakhiri/menyelesaikan hukum taurat. Hukum taurat memang tidak di hilangkan, tetapi Yesus menyelesaikannya, kapan hukum taurat ini di selesaikan? Efesus 2:15 mengatakan hukum Taurat telah berakhir di saat kematian Tuhan Yesus di kayu salib, ini artinya hukum Taurat masih berlaku pada saat Tuhan Yesus masih melayani di dunia ini bersama-sama dengan murid-murid-Nya, Setelah kematian-Nya barulah hukum itu tidak lagi berlaku.
Banyak orang kristen salah kaprah dengan pernyataan Tuhan Yesus, mereka mengira Yesus tetap mempertahankan hukum Musa ini, banyak hamba-hamba Tuhan dengan sesat mengajar bahwa hukum Taurat tetap berlaku karena Tuhan Yesus tidak membatalkannya, berdasarkan pada ayat ini. Lalu bagaimana kenyataannya? Sesuai dengan arti kata menggenapi maka kenyataannya ialah Yesus mengakhiri hukum tersebut, maka muncullah Efesus 2:15, yang artinya hukum taurat hanya berlaku pada saat-saat sebelum kematian Yesus di kayu salib, artinya peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kitab injil, semuanya masih berada di bawah hukum.
Lalu pengajaran Tuhan Yesus dari ayatnya yang ke 20-48 hanyalah berlaku hingga kematian Yesus di kayu salib, ketetapan-ketetapan ini tidak terjadi pada masa kita karena salib Kristus telah kita lewati, kita telah melewati masa hukum taurat. Hukum taurat memang tidak di tiadakan, tetapi yesus mengakhiri hukum. Banyak sekali orang kristen yang tidak mengerti akan pengajaran Kristus ini, sehingga mereka sekarang masih terjebak di dalam hukum yang sudah berakhir ini.
Untuk pembahasan selanjutnya akan di tulis pada artikel berikutnya, link ini adalah pembahsan lanjutan dari artikel ini (Tafsir Matius 6)
Penutup
Jadi sejauh ini masih ada orang kristen yang tidak mentaati kebenaran firman Tuhan, masih banyak yang belum menjadi terang dunia dan bahkan ada yang terangnya itu sangat redup sekali, namun mereka tetap berusaha untuk memuliakan Tuhan dengan kebaikan. Banyak juga orang kristen yang salah kaprah akan pengajaran Tuhan Yesus, apakah hukum taurat di batalkan atau tidak, pada kenyataannya Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan bahwa Ia mengakhiri hukum tersebut, hukum taurat tidak akan di tiadakan, namun ia hanya di akhiri saja segala hukum dan ketetapannya.
Tafsir Matius 7:24-27
Pendahuluan
Matius 7:24-27 merupakan salah satu ayat yang sering sekali di kotbahkan di gereja lokal manapun, ayat ini sudah over preached. Namun kebanyakan mereka hanya mencomot ayat ini asal-asalan tanpa memperhatikan konteks yang terjadi pada ayat tersebut. Hal ini terjadi karena mereka memakai ayat ini, memakai perkataan Tuhan Yesus untuk penegasan ajaran sesat mereka, supaya jemaat semakin mendengar ajaran menyimpang yang mereka lontarkan dari mimbar mereka. Mereka sama sekali tidak perduli dengan konteks dari ayat ini, mereka hanya mencomot untuk kepentingan diri mereka, lalu apa maksud dari ayat ini? Apa konteks dari ayat ini?
Pembahasan
Matius 7:24-27 mengatakan bahwa jika ada orang yang mendengar dan melakukan perkataan Tuhan Yesus maka mereka menjadi pribadi yang tangguh, bisa bertahan dalam setiap pencobaan, namun jika mereka hanya mendengar saja dan tidak melakukan perkataan Tuhan Yesus maka mereka menjadi pribadi yang lemah, dimana mereka tidak dapat bisa bertahan dalam setiap masalah hidup.
Kita harus ingat bahwa ayat ini berbicara mengenai ketaatan kepada perkataan Tuhan Yesus, bukan kepada ajaran manusia yang asal mencomot ayat alkitab lalu membuatnya menjadi suatu pengajaran. Ajaran-ajaran yang mencuat di gereja lokal tersebut kebanyakan di antaranya adalah para penyesat, kita harus berhati-hati. Jangan kita mendengar ajaran manusia melainkan kita harus mendengar kepada ajaran Kristus. Padahal ayat ini sendiri telah menjelaskan kepada kita bahwa kita harus mentaati pengajaran firman Tuhan, bukan ajaran manusia yang mengatas namakan ajaran Kristus.
Sederhananya saja, jika gereja memang mengajarkan kebenaran maka gereja itu tidak terpecah, gereja akan tetap menjadi satu hingga kedatangan Tuhan Yesus Kristus, ingat kebenaran itu hanya ada satu, ia tidak bercabang menjadi banyak. Seperti matematika yang mengajarkan bahwa 1+1=2, matematika sendiri menunjukkan kebenaran mutlak itu hanya satu, tidak ada hasil lain selain 2 jika 1+1.
Perpecahan gereja adalah bukti bahwa apa yang di ajarkan dalam tubuh Kristus bukanlah kebenaran firman, melainkan pikiran sesat mereka sendiri. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dengan setiap pengajaran yang mereka lontarkan di setiap mimbar. Justru kita sebagai umat Kristus seharusnya mengikuti setiap ajaran Kristus yang sudah jelas tertulis di dalam alkitab, jangan lagi kita mengikuti mereka-mereka yang suka sekali mengandalkan ajaran manusia.
Jadi ayat ini sebenarnya sudah menjelaskan kepada kita bahwa kita seharusnya mengikuti pengajaran Tuhan, bukan perkataan manusia. Lalu dengan demikian maka kita akan menjadi orang-orang yang tangguh, kita akan bisa melawan pencobaan, apalagi jika ada Iblis yang berusaha untuk menggoda kita, maka kita bisa bertahan dengan kebenaran firman, seperti yang di lakukan oleh Tuhan Yesus ketika Ia sedang berpuasa dan di godai Iblis.
Banyak dari mereka yang tidak memperhatikan konteks dari ayat-ayat ini, ayat-ayat ini merupakan kotbah Tuhan Yesus yang di mulai dari Matius 5, Matius 7:24-27 adalah penutup dari pengajaran Tuhan Yesus, dan banyak orang Kristen mengutip dengan asal kotbah Tuhan Yesus ini, mereka melupakan konteksnya, sama halnya dengan mengurangi kebenaran firman Tuhan.
Wahyu 22:19 kitab Wahyu telah memperingatkan bahwa jika kita mengurangi kebenaran firman Tuhan maka kita akan mendapatkan malapetaka dari Allah, dan kebanyakan orang kristen mengurangi isi kotbah dari Tuhan Yesus yang satu ini karena kebiasaan mereka dalam mencomot kebenaran tanpa memperhatikan konteksnya.
Sekarang mari kita memperhatikan setiap pengajaran Tuhan Yesus ini dan mari kita renungkan apakah kita telah mentaatinya? Jika kita mentaatinya maka kita menjadi orang yang tangguh, dapat melewati pencobaan, dan penyesatan. Namun jika kita tidak melakukannya maka kita menjadi orang yang lemah tak berdaya.
Matius 5:1-12 berbicara mengenai ucapan bahagia, di mana orang-orang tertentu akan mendapatkan kebahagiaan, mereka-mereka yang berbahagia ialah mereka yang miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hatinya, pembawa damai, yang dianiaya, mereka-mereka ini di berikan ucapan bahagia oleh Kristus karena ada janji yang akan mereka peroleh.
Ayat 13-16 mengajarkan tentang garam dan terang dunia, dalam ajaran ini Ia mengajarkan bahwa kita harus menjadi terang dunia dengan maksud supaya orang-orang dapat melihat perbuatan baik yang terpancar dari kita dan Allah pun di muliakan dari perbuatan mulia kita. Meskipun kita terbebas dari hukum dan hidup dalam kasih karunia, bukan berarti kita bisa melakukan dosa sesuka hati kita, kita sebagai pengikut Kristus haruslah mentaati kebenaran firman Tuhan, menjadi terang dunia. Namun kenyataannya, apakah orang-orang kristen sudah menjadi terang dunia?
Saya sendiri sebagai seorang kristen telah memiliki pengalaman di mana saya sendiri di hakimi oleh orang kristen, di kucilkan oleh orang kristen, di tekan oleh hamba-hamba Tuhan. Dari pengalaman yang saya lalui justru tidak ada orang kristen hingga kini yang menjadi terang dunia. Meskipun saya adalah korban dari mereka, bukan berarti saya juga telah menjadi terang dunia, saya hanya orang kristen yang berusaha mentaati kebenaran firman Tuhan, jadi terang yang saya miliki ini sangat redup karena di liputi oleh dosa. Saya adalah orang berdosa dan saya mengakui itu, mengapa? Karena meskipun saya berdosa, kemunafikan tidak termasuk dalam dosa-dosa saya, karena saya benci terhadap kemunafikan. Saya apa adanya, mengakui keberdosaan saya, tetapi ingat, saya hanya mengakuinya di hadapan Allah bukan di hadapan manusia, karena manusia hanya menghujat keberdosaan manusia, mereka tidak dapat mengampuni dosa manusia, untuk apa saya mengakuinya di hadapan manusia?
Saudara sendiri renungkanlah apakah saudara sudah menjadi terang dunia? Atau tidak sama sekali? Atau apakah saudara menjadi orang-orang kristen yang tidak menjadi terang dunia? Tidak memiliki kasih di dunia yang penuh dengan kepahitan ini? Mengucilkan saudara seiman? Menjadi serigala dalam domba-domba Allah?
Matius 5:17-48 berbicara mengenai hubungan antara Tuhan Yesus dengan hukum Taurat. Banyak yang mengajarkan bahwa Tuhan Yesus datang kedunia ini tidak untuk membatalkan hukum taurat, ayat 17-18 merupakan dasar keyakinan mereka, namun mereka hanya mencomot kedua ayat tersebut tanpa memperhatikan ayat seterusnya atau tanpa memperhatikan ayat lainnya., sehingga alhasil masih banyak gereja yang hidup di bawah hukum yang tidak dapat menyelamatkan kita ini.
Kata menggenapi dalam teks Yunani ialah pleroo yang berarti untuk memenuhi, untuk melengkapi, menyelesaikan, mencapai, selesai, mengakhiri, dll. Dari arti-arti tersebut maka kedatangan Tuhan Yesus itu untuk mengakhiri/menyelesaikan hukum taurat. Hukum taurat memang tidak di hilangkan, tetapi Yesus menyelesaikannya, kapan hukum taurat ini di selesaikan? Efesus 2:15 mengatakan hukum Taurat telah berakhir di saat kematian Tuhan Yesus di kayu salib, ini artinya hukum Taurat masih berlaku pada saat Tuhan Yesus masih melayani di dunia ini bersama-sama dengan murid-murid-Nya, Setelah kematian-Nya barulah hukum itu tidak lagi berlaku.
Banyak orang kristen salah kaprah dengan pernyataan Tuhan Yesus, mereka mengira Yesus tetap mempertahankan hukum Musa ini, banyak hamba-hamba Tuhan dengan sesat mengajar bahwa hukum Taurat tetap berlaku karena Tuhan Yesus tidak membatalkannya, berdasarkan pada ayat ini. Lalu bagaimana kenyataannya? Sesuai dengan arti kata menggenapi maka kenyataannya ialah Yesus mengakhiri hukum tersebut, maka muncullah Efesus 2:15, yang artinya hukum taurat hanya berlaku pada saat-saat sebelum kematian Yesus di kayu salib, artinya peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kitab injil, semuanya masih berada di bawah hukum.
Lalu pengajaran Tuhan Yesus dari ayatnya yang ke 20-48 hanyalah berlaku hingga kematian Yesus di kayu salib, ketetapan-ketetapan ini tidak terjadi pada masa kita karena salib Kristus telah kita lewati, kita telah melewati masa hukum taurat. Hukum taurat memang tidak di tiadakan, tetapi yesus mengakhiri hukum. Banyak sekali orang kristen yang tidak mengerti akan pengajaran Kristus ini, sehingga mereka sekarang masih terjebak di dalam hukum yang sudah berakhir ini.
Untuk pembahasan selanjutnya akan di tulis pada artikel berikutnya, link ini adalah pembahsan lanjutan dari artikel ini (Tafsir Matius 6)
Penutup
Jadi sejauh ini masih ada orang kristen yang tidak mentaati kebenaran firman Tuhan, masih banyak yang belum menjadi terang dunia dan bahkan ada yang terangnya itu sangat redup sekali, namun mereka tetap berusaha untuk memuliakan Tuhan dengan kebaikan. Banyak juga orang kristen yang salah kaprah akan pengajaran Tuhan Yesus, apakah hukum taurat di batalkan atau tidak, pada kenyataannya Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan bahwa Ia mengakhiri hukum tersebut, hukum taurat tidak akan di tiadakan, namun ia hanya di akhiri saja segala hukum dan ketetapannya.
Tafsir Matius 7:24-27
Pendahuluan
Matius 7:24-27 merupakan salah satu ayat yang sering sekali di kotbahkan di gereja lokal manapun, ayat ini sudah over preached. Namun kebanyakan mereka hanya mencomot ayat ini asal-asalan tanpa memperhatikan konteks yang terjadi pada ayat tersebut. Hal ini terjadi karena mereka memakai ayat ini, memakai perkataan Tuhan Yesus untuk penegasan ajaran sesat mereka, supaya jemaat semakin mendengar ajaran menyimpang yang mereka lontarkan dari mimbar mereka. Mereka sama sekali tidak perduli dengan konteks dari ayat ini, mereka hanya mencomot untuk kepentingan diri mereka, lalu apa maksud dari ayat ini? Apa konteks dari ayat ini?
Pembahasan
Matius 7:24-27 mengatakan bahwa jika ada orang yang mendengar dan melakukan perkataan Tuhan Yesus maka mereka menjadi pribadi yang tangguh, bisa bertahan dalam setiap pencobaan, namun jika mereka hanya mendengar saja dan tidak melakukan perkataan Tuhan Yesus maka mereka menjadi pribadi yang lemah, dimana mereka tidak dapat bisa bertahan dalam setiap masalah hidup.
Kita harus ingat bahwa ayat ini berbicara mengenai ketaatan kepada perkataan Tuhan Yesus, bukan kepada ajaran manusia yang asal mencomot ayat alkitab lalu membuatnya menjadi suatu pengajaran. Ajaran-ajaran yang mencuat di gereja lokal tersebut kebanyakan di antaranya adalah para penyesat, kita harus berhati-hati. Jangan kita mendengar ajaran manusia melainkan kita harus mendengar kepada ajaran Kristus. Padahal ayat ini sendiri telah menjelaskan kepada kita bahwa kita harus mentaati pengajaran firman Tuhan, bukan ajaran manusia yang mengatas namakan ajaran Kristus.
Sederhananya saja, jika gereja memang mengajarkan kebenaran maka gereja itu tidak terpecah, gereja akan tetap menjadi satu hingga kedatangan Tuhan Yesus Kristus, ingat kebenaran itu hanya ada satu, ia tidak bercabang menjadi banyak. Seperti matematika yang mengajarkan bahwa 1+1=2, matematika sendiri menunjukkan kebenaran mutlak itu hanya satu, tidak ada hasil lain selain 2 jika 1+1.
Perpecahan gereja adalah bukti bahwa apa yang di ajarkan dalam tubuh Kristus bukanlah kebenaran firman, melainkan pikiran sesat mereka sendiri. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dengan setiap pengajaran yang mereka lontarkan di setiap mimbar. Justru kita sebagai umat Kristus seharusnya mengikuti setiap ajaran Kristus yang sudah jelas tertulis di dalam alkitab, jangan lagi kita mengikuti mereka-mereka yang suka sekali mengandalkan ajaran manusia.
Jadi ayat ini sebenarnya sudah menjelaskan kepada kita bahwa kita seharusnya mengikuti pengajaran Tuhan, bukan perkataan manusia. Lalu dengan demikian maka kita akan menjadi orang-orang yang tangguh, kita akan bisa melawan pencobaan, apalagi jika ada Iblis yang berusaha untuk menggoda kita, maka kita bisa bertahan dengan kebenaran firman, seperti yang di lakukan oleh Tuhan Yesus ketika Ia sedang berpuasa dan di godai Iblis.
Banyak dari mereka yang tidak memperhatikan konteks dari ayat-ayat ini, ayat-ayat ini merupakan kotbah Tuhan Yesus yang di mulai dari Matius 5, Matius 7:24-27 adalah penutup dari pengajaran Tuhan Yesus, dan banyak orang Kristen mengutip dengan asal kotbah Tuhan Yesus ini, mereka melupakan konteksnya, sama halnya dengan mengurangi kebenaran firman Tuhan.
Wahyu 22:19 kitab Wahyu telah memperingatkan bahwa jika kita mengurangi kebenaran firman Tuhan maka kita akan mendapatkan malapetaka dari Allah, dan kebanyakan orang kristen mengurangi isi kotbah dari Tuhan Yesus yang satu ini karena kebiasaan mereka dalam mencomot kebenaran tanpa memperhatikan konteksnya.
Sekarang mari kita memperhatikan setiap pengajaran Tuhan Yesus ini dan mari kita renungkan apakah kita telah mentaatinya? Jika kita mentaatinya maka kita menjadi orang yang tangguh, dapat melewati pencobaan, dan penyesatan. Namun jika kita tidak melakukannya maka kita menjadi orang yang lemah tak berdaya.
Matius 5:1-12 berbicara mengenai ucapan bahagia, di mana orang-orang tertentu akan mendapatkan kebahagiaan, mereka-mereka yang berbahagia ialah mereka yang miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hatinya, pembawa damai, yang dianiaya, mereka-mereka ini di berikan ucapan bahagia oleh Kristus karena ada janji yang akan mereka peroleh.
Ayat 13-16 mengajarkan tentang garam dan terang dunia, dalam ajaran ini Ia mengajarkan bahwa kita harus menjadi terang dunia dengan maksud supaya orang-orang dapat melihat perbuatan baik yang terpancar dari kita dan Allah pun di muliakan dari perbuatan mulia kita. Meskipun kita terbebas dari hukum dan hidup dalam kasih karunia, bukan berarti kita bisa melakukan dosa sesuka hati kita, kita sebagai pengikut Kristus haruslah mentaati kebenaran firman Tuhan, menjadi terang dunia. Namun kenyataannya, apakah orang-orang kristen sudah menjadi terang dunia?
Saya sendiri sebagai seorang kristen telah memiliki pengalaman di mana saya sendiri di hakimi oleh orang kristen, di kucilkan oleh orang kristen, di tekan oleh hamba-hamba Tuhan. Dari pengalaman yang saya lalui justru tidak ada orang kristen hingga kini yang menjadi terang dunia. Meskipun saya adalah korban dari mereka, bukan berarti saya juga telah menjadi terang dunia, saya hanya orang kristen yang berusaha mentaati kebenaran firman Tuhan, jadi terang yang saya miliki ini sangat redup karena di liputi oleh dosa. Saya adalah orang berdosa dan saya mengakui itu, mengapa? Karena meskipun saya berdosa, kemunafikan tidak termasuk dalam dosa-dosa saya, karena saya benci terhadap kemunafikan. Saya apa adanya, mengakui keberdosaan saya, tetapi ingat, saya hanya mengakuinya di hadapan Allah bukan di hadapan manusia, karena manusia hanya menghujat keberdosaan manusia, mereka tidak dapat mengampuni dosa manusia, untuk apa saya mengakuinya di hadapan manusia?
Saudara sendiri renungkanlah apakah saudara sudah menjadi terang dunia? Atau tidak sama sekali? Atau apakah saudara menjadi orang-orang kristen yang tidak menjadi terang dunia? Tidak memiliki kasih di dunia yang penuh dengan kepahitan ini? Mengucilkan saudara seiman? Menjadi serigala dalam domba-domba Allah?
Matius 5:17-48 berbicara mengenai hubungan antara Tuhan Yesus dengan hukum Taurat. Banyak yang mengajarkan bahwa Tuhan Yesus datang kedunia ini tidak untuk membatalkan hukum taurat, ayat 17-18 merupakan dasar keyakinan mereka, namun mereka hanya mencomot kedua ayat tersebut tanpa memperhatikan ayat seterusnya atau tanpa memperhatikan ayat lainnya., sehingga alhasil masih banyak gereja yang hidup di bawah hukum yang tidak dapat menyelamatkan kita ini.
Kata menggenapi dalam teks Yunani ialah pleroo yang berarti untuk memenuhi, untuk melengkapi, menyelesaikan, mencapai, selesai, mengakhiri, dll. Dari arti-arti tersebut maka kedatangan Tuhan Yesus itu untuk mengakhiri/menyelesaikan hukum taurat. Hukum taurat memang tidak di hilangkan, tetapi Yesus menyelesaikannya, kapan hukum taurat ini di selesaikan? Efesus 2:15 mengatakan hukum Taurat telah berakhir di saat kematian Tuhan Yesus di kayu salib, ini artinya hukum Taurat masih berlaku pada saat Tuhan Yesus masih melayani di dunia ini bersama-sama dengan murid-murid-Nya, Setelah kematian-Nya barulah hukum itu tidak lagi berlaku.
Banyak orang kristen salah kaprah dengan pernyataan Tuhan Yesus, mereka mengira Yesus tetap mempertahankan hukum Musa ini, banyak hamba-hamba Tuhan dengan sesat mengajar bahwa hukum Taurat tetap berlaku karena Tuhan Yesus tidak membatalkannya, berdasarkan pada ayat ini. Lalu bagaimana kenyataannya? Sesuai dengan arti kata menggenapi maka kenyataannya ialah Yesus mengakhiri hukum tersebut, maka muncullah Efesus 2:15, yang artinya hukum taurat hanya berlaku pada saat-saat sebelum kematian Yesus di kayu salib, artinya peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kitab injil, semuanya masih berada di bawah hukum.
Lalu pengajaran Tuhan Yesus dari ayatnya yang ke 20-48 hanyalah berlaku hingga kematian Yesus di kayu salib, ketetapan-ketetapan ini tidak terjadi pada masa kita karena salib Kristus telah kita lewati, kita telah melewati masa hukum taurat. Hukum taurat memang tidak di tiadakan, tetapi yesus mengakhiri hukum. Banyak sekali orang kristen yang tidak mengerti akan pengajaran Kristus ini, sehingga mereka sekarang masih terjebak di dalam hukum yang sudah berakhir ini.
Untuk pembahasan selanjutnya akan di tulis pada artikel berikutnya, link ini adalah pembahsan lanjutan dari artikel ini (Tafsir Matius 6)
Penutup
Jadi sejauh ini masih ada orang kristen yang tidak mentaati kebenaran firman Tuhan, masih banyak yang belum menjadi terang dunia dan bahkan ada yang terangnya itu sangat redup sekali, namun mereka tetap berusaha untuk memuliakan Tuhan dengan kebaikan. Banyak juga orang kristen yang salah kaprah akan pengajaran Tuhan Yesus, apakah hukum taurat di batalkan atau tidak, pada kenyataannya Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan bahwa Ia mengakhiri hukum tersebut, hukum taurat tidak akan di tiadakan, namun ia hanya di akhiri saja segala hukum dan ketetapannya.
Tafsir Matius 7:24-27
Pendahuluan
Matius 7:24-27 merupakan salah satu ayat yang sering sekali di kotbahkan di gereja lokal manapun, ayat ini sudah over preached. Namun kebanyakan mereka hanya mencomot ayat ini asal-asalan tanpa memperhatikan konteks yang terjadi pada ayat tersebut. Hal ini terjadi karena mereka memakai ayat ini, memakai perkataan Tuhan Yesus untuk penegasan ajaran sesat mereka, supaya jemaat semakin mendengar ajaran menyimpang yang mereka lontarkan dari mimbar mereka. Mereka sama sekali tidak perduli dengan konteks dari ayat ini, mereka hanya mencomot untuk kepentingan diri mereka, lalu apa maksud dari ayat ini? Apa konteks dari ayat ini?
Pembahasan
Matius 7:24-27 mengatakan bahwa jika ada orang yang mendengar dan melakukan perkataan Tuhan Yesus maka mereka menjadi pribadi yang tangguh, bisa bertahan dalam setiap pencobaan, namun jika mereka hanya mendengar saja dan tidak melakukan perkataan Tuhan Yesus maka mereka menjadi pribadi yang lemah, dimana mereka tidak dapat bisa bertahan dalam setiap masalah hidup.
Kita harus ingat bahwa ayat ini berbicara mengenai ketaatan kepada perkataan Tuhan Yesus, bukan kepada ajaran manusia yang asal mencomot ayat alkitab lalu membuatnya menjadi suatu pengajaran. Ajaran-ajaran yang mencuat di gereja lokal tersebut kebanyakan di antaranya adalah para penyesat, kita harus berhati-hati. Jangan kita mendengar ajaran manusia melainkan kita harus mendengar kepada ajaran Kristus. Padahal ayat ini sendiri telah menjelaskan kepada kita bahwa kita harus mentaati pengajaran firman Tuhan, bukan ajaran manusia yang mengatas namakan ajaran Kristus.
Sederhananya saja, jika gereja memang mengajarkan kebenaran maka gereja itu tidak terpecah, gereja akan tetap menjadi satu hingga kedatangan Tuhan Yesus Kristus, ingat kebenaran itu hanya ada satu, ia tidak bercabang menjadi banyak. Seperti matematika yang mengajarkan bahwa 1+1=2, matematika sendiri menunjukkan kebenaran mutlak itu hanya satu, tidak ada hasil lain selain 2 jika 1+1.
Perpecahan gereja adalah bukti bahwa apa yang di ajarkan dalam tubuh Kristus bukanlah kebenaran firman, melainkan pikiran sesat mereka sendiri. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dengan setiap pengajaran yang mereka lontarkan di setiap mimbar. Justru kita sebagai umat Kristus seharusnya mengikuti setiap ajaran Kristus yang sudah jelas tertulis di dalam alkitab, jangan lagi kita mengikuti mereka-mereka yang suka sekali mengandalkan ajaran manusia.
Jadi ayat ini sebenarnya sudah menjelaskan kepada kita bahwa kita seharusnya mengikuti pengajaran Tuhan, bukan perkataan manusia. Lalu dengan demikian maka kita akan menjadi orang-orang yang tangguh, kita akan bisa melawan pencobaan, apalagi jika ada Iblis yang berusaha untuk menggoda kita, maka kita bisa bertahan dengan kebenaran firman, seperti yang di lakukan oleh Tuhan Yesus ketika Ia sedang berpuasa dan di godai Iblis.
Banyak dari mereka yang tidak memperhatikan konteks dari ayat-ayat ini, ayat-ayat ini merupakan kotbah Tuhan Yesus yang di mulai dari Matius 5, Matius 7:24-27 adalah penutup dari pengajaran Tuhan Yesus, dan banyak orang Kristen mengutip dengan asal kotbah Tuhan Yesus ini, mereka melupakan konteksnya, sama halnya dengan mengurangi kebenaran firman Tuhan.
Wahyu 22:19 kitab Wahyu telah memperingatkan bahwa jika kita mengurangi kebenaran firman Tuhan maka kita akan mendapatkan malapetaka dari Allah, dan kebanyakan orang kristen mengurangi isi kotbah dari Tuhan Yesus yang satu ini karena kebiasaan mereka dalam mencomot kebenaran tanpa memperhatikan konteksnya.
Sekarang mari kita memperhatikan setiap pengajaran Tuhan Yesus ini dan mari kita renungkan apakah kita telah mentaatinya? Jika kita mentaatinya maka kita menjadi orang yang tangguh, dapat melewati pencobaan, dan penyesatan. Namun jika kita tidak melakukannya maka kita menjadi orang yang lemah tak berdaya.
Matius 5:1-12 berbicara mengenai ucapan bahagia, di mana orang-orang tertentu akan mendapatkan kebahagiaan, mereka-mereka yang berbahagia ialah mereka yang miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hatinya, pembawa damai, yang dianiaya, mereka-mereka ini di berikan ucapan bahagia oleh Kristus karena ada janji yang akan mereka peroleh.
Ayat 13-16 mengajarkan tentang garam dan terang dunia, dalam ajaran ini Ia mengajarkan bahwa kita harus menjadi terang dunia dengan maksud supaya orang-orang dapat melihat perbuatan baik yang terpancar dari kita dan Allah pun di muliakan dari perbuatan mulia kita. Meskipun kita terbebas dari hukum dan hidup dalam kasih karunia, bukan berarti kita bisa melakukan dosa sesuka hati kita, kita sebagai pengikut Kristus haruslah mentaati kebenaran firman Tuhan, menjadi terang dunia. Namun kenyataannya, apakah orang-orang kristen sudah menjadi terang dunia?
Saya sendiri sebagai seorang kristen telah memiliki pengalaman di mana saya sendiri di hakimi oleh orang kristen, di kucilkan oleh orang kristen, di tekan oleh hamba-hamba Tuhan. Dari pengalaman yang saya lalui justru tidak ada orang kristen hingga kini yang menjadi terang dunia. Meskipun saya adalah korban dari mereka, bukan berarti saya juga telah menjadi terang dunia, saya hanya orang kristen yang berusaha mentaati kebenaran firman Tuhan, jadi terang yang saya miliki ini sangat redup karena di liputi oleh dosa. Saya adalah orang berdosa dan saya mengakui itu, mengapa? Karena meskipun saya berdosa, kemunafikan tidak termasuk dalam dosa-dosa saya, karena saya benci terhadap kemunafikan. Saya apa adanya, mengakui keberdosaan saya, tetapi ingat, saya hanya mengakuinya di hadapan Allah bukan di hadapan manusia, karena manusia hanya menghujat keberdosaan manusia, mereka tidak dapat mengampuni dosa manusia, untuk apa saya mengakuinya di hadapan manusia?
Saudara sendiri renungkanlah apakah saudara sudah menjadi terang dunia? Atau tidak sama sekali? Atau apakah saudara menjadi orang-orang kristen yang tidak menjadi terang dunia? Tidak memiliki kasih di dunia yang penuh dengan kepahitan ini? Mengucilkan saudara seiman? Menjadi serigala dalam domba-domba Allah?
Matius 5:17-48 berbicara mengenai hubungan antara Tuhan Yesus dengan hukum Taurat. Banyak yang mengajarkan bahwa Tuhan Yesus datang kedunia ini tidak untuk membatalkan hukum taurat, ayat 17-18 merupakan dasar keyakinan mereka, namun mereka hanya mencomot kedua ayat tersebut tanpa memperhatikan ayat seterusnya atau tanpa memperhatikan ayat lainnya., sehingga alhasil masih banyak gereja yang hidup di bawah hukum yang tidak dapat menyelamatkan kita ini.
Kata menggenapi dalam teks Yunani ialah pleroo yang berarti untuk memenuhi, untuk melengkapi, menyelesaikan, mencapai, selesai, mengakhiri, dll. Dari arti-arti tersebut maka kedatangan Tuhan Yesus itu untuk mengakhiri/menyelesaikan hukum taurat. Hukum taurat memang tidak di hilangkan, tetapi Yesus menyelesaikannya, kapan hukum taurat ini di selesaikan? Efesus 2:15 mengatakan hukum Taurat telah berakhir di saat kematian Tuhan Yesus di kayu salib, ini artinya hukum Taurat masih berlaku pada saat Tuhan Yesus masih melayani di dunia ini bersama-sama dengan murid-murid-Nya, Setelah kematian-Nya barulah hukum itu tidak lagi berlaku.
Banyak orang kristen salah kaprah dengan pernyataan Tuhan Yesus, mereka mengira Yesus tetap mempertahankan hukum Musa ini, banyak hamba-hamba Tuhan dengan sesat mengajar bahwa hukum Taurat tetap berlaku karena Tuhan Yesus tidak membatalkannya, berdasarkan pada ayat ini. Lalu bagaimana kenyataannya? Sesuai dengan arti kata menggenapi maka kenyataannya ialah Yesus mengakhiri hukum tersebut, maka muncullah Efesus 2:15, yang artinya hukum taurat hanya berlaku pada saat-saat sebelum kematian Yesus di kayu salib, artinya peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kitab injil, semuanya masih berada di bawah hukum.
Lalu pengajaran Tuhan Yesus dari ayatnya yang ke 20-48 hanyalah berlaku hingga kematian Yesus di kayu salib, ketetapan-ketetapan ini tidak terjadi pada masa kita karena salib Kristus telah kita lewati, kita telah melewati masa hukum taurat. Hukum taurat memang tidak di tiadakan, tetapi yesus mengakhiri hukum. Banyak sekali orang kristen yang tidak mengerti akan pengajaran Kristus ini, sehingga mereka sekarang masih terjebak di dalam hukum yang sudah berakhir ini.
Untuk pembahasan selanjutnya akan di tulis pada artikel berikutnya, link ini adalah pembahsan lanjutan dari artikel ini (Tafsir Matius 6)
Penutup
Jadi sejauh ini masih ada orang kristen yang tidak mentaati kebenaran firman Tuhan, masih banyak yang belum menjadi terang dunia dan bahkan ada yang terangnya itu sangat redup sekali, namun mereka tetap berusaha untuk memuliakan Tuhan dengan kebaikan. Banyak juga orang kristen yang salah kaprah akan pengajaran Tuhan Yesus, apakah hukum taurat di batalkan atau tidak, pada kenyataannya Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan bahwa Ia mengakhiri hukum tersebut, hukum taurat tidak akan di tiadakan, namun ia hanya di akhiri saja segala hukum dan ketetapannya.
