Makanan Haram Menurut Alkitab

Image by Barbara Rosner from Pixabay
 


Makanan Haram Menurut Alkitab

 

Pendahuluan

Dalam kekristenan makanan tidak lagi haram karena kita sudah berada di dunia perjanjian baru di mana segala hukum taurat telah di batalkan. Kita tahu sendiri dalam hukum taurat ada istilahnya makanan halal dan yang haram, salah satu makanan haram menurut hukum taurat adalah darah.

 

Untuk saat ini, meskipun kita telah terbebas dari hukum taurat karena kasih Kristus, tetap aja masih ada gereja-gereja di luar sana yang masih terikat dengan hukum taurat, gereja-gereja tersebut salah satunya ialah GPdI dan Advent, dalam GPdI darah di larang untuk di konsumsi. Namun bagaimana kebenaran firman Tuhan tentang perihal makanan ini? Yang manakah yang benar? Apakah masih ada makanan yang haram?

Pembahasan

Markus 7:18-19 Tuhan Yesus sendiri telah mengajarkan kepada kita semua bahwa tidak ada lagi makanan yang haram, Ia mengajar bahwa tidak ada makanan yang dapat menajiskan setiap orang karena makanan pada akhirnya akan berakhir di jamban, namun entah mengapa gereja masih saja menerapkan makanan halal dan haram. Apakah gereja-gereja tersebut adalah pengikut Kristus?

 

Tuhan Yesus sudah menghalalkan semua makanan lalu mengapa kita kembali mengharamkan beberapa makanan? Mengapa kita sebagai orang kristen malah menjadi orang kristen yang bebal? Kepada Petrus saja Tuhan telah memberi tahu bahwa tidak ada lagi makanan yang haram “…Apa yang di nyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram” (Kis. 10:10-15). kita telah di berikan warning oleh Tuhan bahwa kita tidak boleh sesuka hati menyatakan segala sesuatu adalah haram, mengapa karena Tuhan telah menghalalkan segala makanan. Mengapa gereja masih saja keras kepala dan tidak mau mendengar ajaran Tuhan ini? Apakah mereka adalah orang-orang kristen pemberontak?

 

Padahal Efesus 2:15 telah jelas sekali menuliskan bahwa tidak ada lagi hukum Taurat, segala hukum dan tuntutan di dalamnya tidak lagi berlaku kepada kita, namun kenapa kita masih bersikeras untuk mentaati hukum taurat? Mengapa kita tidak bisa mendengar satu saja perkataan Kristus? Mengapa gereja begitu berani mengajarkan kepada jemaat secara berlawanan?

 

Roma 14:1-23 menjelaskan bahwa orang yang masih hidup dalam prinsip halal dan haram adalah orang kristen yang imannya sangat lemah, jadi berdasarkan ayat-ayat tersebut maka gereja yang masih dalam prinsip halal dan haram, mereka adalah gereja-gereja yang imannya ciut, iman mereka lemah di banding dengan saudara-saudara seiman yang lainnya. Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk tidak saling menghakimi, kita tidak boleh menghakimi mereka yang lemah imannya, jadi apa yang terjadi maka kita harus menghormati mereka.

 

1 Timotius 4 menjelaskan bahwa orang-orang yang mengajar kepada jemaat mengenai ada makanan yang haram, mengenai ada makanan yang tidak boleh di makan adalah penyesat yang telah di peringatkan oleh rasul Paulus. Di katakan bahwa banyak orang yang murtad dan mengikuti ajaran penyesat-penyesat ini. Jadi berdasarkan pada ayat tersebut maka mereka yang mengajar jemaat untuk tidak memakan makanan tertentu adalah para penyesat, dan jemaat-jemaat yang mengimani dan mempraktekkan ajaran mereka sesungguhnya telah murtad, mereka telah meninggalkan kasih Kristus.

 

Oleh karena itu saudara-saudara ku tentulah kita harus berhati-hati dalam menghadapi setiap pengajar-pengajar yang ada di gereja-gereja lokal manapun, jangan kita asal mengimani ajaran mereka dan jangan juga mempraktekkannya, karena jika kita mengimani ajaran sesat maka kita telah murtad, jangan hanya karena perihal makanan kita sebagai jemaat menjadi murtad.

 

Berdasarkan warning yang di berikan oleh rasul Paulus ini maka kita tidak bisa mengelak dari fakta bahwa ada beberapa denominasi gereja yang mengajarkan makanan haram kepada jemaat dan telah menjadi iman serta kebiasaan mereka untuk menerapkan prinsip halal dan haram dalam perihal makanan. Maka berdasarkan peringatan rasul Paulus tersebut mereka adalah para penyesat dan orang-orang yang telah murtad.

 Alasan GPdI melarang jemaat-jemaatnya untuk makan darah memang bukan alasan tersendiri, mereka tetap mengutip dari ayat alkitab. Tetapi ajaran yang di sampaikan bukan berasal dari ajaran Tuhan melainkan ajaran manusia, karena ajaran yang di turunkan manusia maka tentu bertentangan dengan ajaran Tuhan.

 

Kisah Para Rasul 15:28-29 menjadi landasan utama GPdI dalam meyakini akan adanya makanan haram, namun ajaran ini bertolak belakang dengan ajaran Kristus. Sekarang kita perhatikan siapa yang berbicara pada ayat ini, yang berbicara pada ayat tersebut ialah para rasul dan jemaat yang telah membuat keputusan bersama pada ayatnya yang ke 22, keputusan yang di buat ialah mengenai kedua orang yang akan di pilih untuk bermisi ke Antiokhia sambil membawa pesan yang isinya terdapat pada ayatnya yang ke 28-29.

 

Para rasul dan jemaat mengklaim bahwa keputusan yang mereka buat itu berasal dari Roh Kudus dan juga keputusan mereka, saya yakin bahwa pesan mengenai melarang makan ini dan itu tidak berasal dari Roh Kudus melainkan pesan buatan mereka para rasul dan jemaat.  Mengapa? Karena kalau pesan itu berasal dari Roh Kudus maka pesan tersebut akan sama suaranya dengan apa yang di nyatakan oleh Yesus pada Markus 7:18-19 dan juga akan sama pesan Roh Kudus dengan yang tercatat pada Kisah Para Rasul 10:10-15, Roh Kudus itu adalah Allah maka tidak mungkin ajarannya berbeda dengan pribadi Allah yang lainnya, maka sudah pasti pesan ini lah yang di maksud sebagai keputusan mereka, keputusan para rasul dan jemaat.

 

Kalau mereka mengklaim bahwa pesan ini juga merupakan keputusan Roh Kudus maka itu adalah klaim sepihak yang menuduh Roh Kudus mengajarkan ajaran yang bertentangan dengan pribadi Allah yang lainnya, sebuah tindakan yang fatal. Dan benar saja, ayatnya yang ke 20-21 menjelaskan bahwa memang larangan memakan makanan tertentu ini merupakan keputusan yang di buat oleh manusia, oleh para rasul hal ini karena mereka masih mengikuti hukum Musa, berdasarkan dari ayatnya yang ke 13 dan 19 maka keputusan untuk melarang makanan seperti darah dan makanan berhala ialah pendapat yang di lontarkan oleh Yakobus.

Padahal sebelumnya pada Kisah Para Rasul 10:10-15 Tuhan telah memperingatkan kepada Petrus bahwa tidak ada makanan yang haram, Tuhan mengatakan “Apa yang di nyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram, ayatnya yang ke 16 di katakan bahwa peristiwa itu terjadi hingga tiga kali, Petrus pun masih tidak mengerti dengan peringatan Allah ini.

 

Lalu setelah peristiwa ini pada Kisah Para Rasul 15:28-29 pun terjadi dan membuktikan bahwa para rasul sendiri adalah orang-orang yang bebal, mereka tidak bisa mentaati perintah Tuhan. Perihal makanan yang telah Tuhan halalkan pun masih mereka haramkan dan masih saja mengikuti hukum Musa tersebut, namun kita masih bersyukur karena ada rasul Paulus yang dengan benar mengajarkan kepada kita tidak ada lagi makanan halal dan haram.

 

Jadi dari peristiwa tersebut maka makanan haram yang dibuat oleh para rasul tersebut, merupakan tindakan yang tidak terpuji, merupakan bukti bahwa mereka juga tidak bisa mentaati kebenaran firman Tuhan dan herannya mereka juga mengklaim bahwa keputusan tersebut juga merupakan keputusan Roh Kudus, Paulus telah mengingatkan kepada kita bahwa mereka ini adalah para penyesat, roh-roh penyesat dan mereka yang mengimani ajaran ini adalah orang-orang yang telah murtad dari hadapan Allah.

Penutup

Itulah pandangan kebenaran firman Tuhan mengenai makanan haram, dalam dunia perjanjian baru Tuhan Yesus telah menghalalkan segala makanan, kita boleh memakan apa saja yang telah Allah sediakan bagi kita di dunia ini, tentu kita harus mengendalikan keinginan daging kita, kita tidak boleh menjadi rakus dalam perihal makanan meskipun semuanya telah di halalkan.

 

Galatia 5:21-22 sendiri menjelaskan bahwa orang yang hidup dalam Roh maka mereka akan memanifestasikan salah satunya ialah pengendalian diri, maka dalam perihal makanan penting sekali untuk mengendalikan diri sebagai upaya kita untuk tetap diam di dalam Roh Kudus. Paulus juga mengingatkan kepada kita bahwa tidak segala sesuatu yang halal itu berguna bagi kita 1 Korintus 6:12-13, jadi sangat penting sekali bagi kita untuk mengendalikan diri, Paulus juga mengingatkan bahwa segala sesuatu yang di perbolehkan termasuk di dalamnya makanan halal tidak selalu membangun kita 1 Korintus 10:23.

 

Jadi janganlah kita membiarkan diri kita menjadi rakus terhadap makanan karena tidak semuanya itu berguna, tidak semuanya itu dapat membangun pertumbuhan kita. Maka haruslah kita bijaksana dalam memakan makanan yang di sediakan bagi kita, yang kita lakukan hanya bijaksana, mengendalikan diri kita, tidak lagi ada istilah halal dan haram.

 

Jangan biarkan orang-orang melarang kita untuk tidak makan ini dan itu, karena semuanya telah di halalkan, jika kita mengikuti ajaran-ajaran sesat tersebut maka pada saat itu juga kita telah murtad, mereka yang tidak dalam ajaran Kristus telah murtad tanpa mereka harus mengakuinya dari mulut mereka sendiri.

 

 

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak