Tafsir Matius 6:1-34

 

Image by Scottish Guy from Pixabay

Tafsir Matius Pasal 6-7

 

Pendahuluan

Matius 6:1-34 merupakan kelanjutan kotbah Tuhan Yesus dari Matius pasal 5, banyak orang mungkin tidak menyadari akan hal ini karena kebiasaan dalam mencomot kebenaran firman Tuhan tanpa memperhatikan konteksnya. Matius 6:33 adalah salah satu ayat yang populer dari pasal ini, dan merupakan ayat yang biasa di ajarkan oleh mereka para penganut teologi kemakmuran.

 

Teologi kemakmuran dengan sesuka hati menafsirkan pengajaran Tuhan Yesus yang tercatat pada Matius 6:33 dengan mengajarkan bahwa segala kebutuhan duniawi kita akan di tambahkan jika kita mencari kerajaan Allah terlebih dahulu. Teologi kemakmuran mengikuti Tuhan hanya ingin kekayaan yang melimpah-limpah, tentu ajaran ini tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Sekarang bagaimana kebenarannya?

Pembahasan

Matius 6:1-4 mengajarkan kepada kita untuk tidak menjalankan keagamaan kita di muka umum sehingga orang lain melihat kita. Jika kita melakukan demikian maka kita tidak akan memperoleh upah dari Bapa di sorga. Lalu di ajarkan mengerucut tentang maksud kegiatan keagamaan yang di lakukan, maksud dari Yesus ialah berbicara mengenai memberi sedekah. Kita tidak boleh memberi sedekah namun orang lain mengetahuinya, kita harus memberi sedekah tanpa sepengetahuan orang. Memberi sedekah di hadapan banyak orang justru kita di katakan sebagai orang yang munafik oleh Tuhan Yesus karena dengan melakukan demikian sebenarnya kita ingin mendapatkan pujian dari orang-orang. Tuhan Yesus tidak menghendaki hal-hal ini, oleh karena itu Ia mengajarkan untuk memberi sedekah secara tersembunyi supaya tidak ada yang memujinya.

 

Pada kenyataannya saat ini, banyak sekali umat kristen yang memberi sedekah dengan nama yang tertera pada amplop mereka. Donasi perayaan natal biasanya tercantum banyak nama jemaat yang rela memberi sedekah, ini adalah salah satu bukti bahwa banyak umat kristen yang tidak taat pada pengajaran Kristus ini. Lalu donasi-donasi lainnya seperti pembangunan gereja, atau bahkan persembahan persepuluhan juga nama-nama yang memberi pasti akan tercantum dengan jelas, tentulah hal ini bertentangan dengan ajaran kristus. Kita sudah di ajarkan untuk tidak memberi sedekah dengan sepengetahuan publik, namun kita keras kepala dan tidak mentaati ajaran Kristus ini, lalu apakah kita adalah umat Allah yang mentaati perkataan-Nya? Tentu tidak.

 

Matius 6:5-15 berbicara mengenai tentang doa yang sebagaimana seharusnya di jalankan oleh orang kristen, karena ayat tersebut merupakan pengajaran Kristus. Di katakan bahwa kalau kita berdoa, kita tidak boleh berdoa seperti orang yang munafik, jangan kita berdoa lalu di lihat orang, masih berkaitan dengan ayatnya yang ke 1, kita tidak boleh melakukan kegiatan keagamaan kita di muka publik, justru di hadapan Tuhan melakukan kegiatan keagamaan di muka publik adalah kemunafikan yang terang benderang.

 

Kita di ajarkan untuk berdoa secara tersembunyi, privasi adalah hal yang penting dalam menjalankan kegiatan keagamaan kita, berdoalah di tempat di mana tidak ada mata yang melihat lalu memuji kita seolah-olah kita adalah orang yang suci hatinya karena beribadah kepada Allah. Namun kenyataannya, banyak orang kristen yang berdoa di muka publik, berdoa untuk makan, berdoa untuk keselamatan perjalanan, berdoa untuk kegiatan mereka dan sebagainya. Ibadah KKR sendiri biasanya di laksanakan di tempat-tempat umum, tempat terbuka di mana banyak mata melihat, tentu ibadah semacam ini tidak di kehendaki oleh Allah karena bertentangan dengan ajaran Kristus, jadi KKR sendiri adalah ibadah penyesatan yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan karena kita melakukannya di muka publik, dimana banyak mata melihat.

 

Kita juga tidak di anjurkan Tuhan untuk berdoa dengan bertele-tele, berdoa dengan banyak kalimat, orang mengira dengan berdoa banyak kalimat maka doanya akan di kabulkan tentu ini adalah tindakan sesat. Daripada kita berdoa bertele-tele Tuhan justru menganjurkan kepada kita untuk berdoa dengan Doa Bapa Kami yang telah di ajarkan oleh Kristus kepada kita, namun gereja pada saat ini justru mengandalkan doa-doa mereka yang sangat bertele-tele tersebut.

 

Banyak gereja yang telah meninggalkan Doa Bapa Kami dan lebih mengandalkan doa pribadi mereka yang bertele-tele tersebut dan tentunya doa Yabes lebih banyak di agungkan oleh gereja pada masa kini, akhirnya banyak orang kristen yang tidak lagi berdoa menurut Doa Bapa Kami, sehingga Doa Bapa Kami dilupakan oleh orang-orang Kristen, saya sendiri telah lupa isi dari Doa Bapa Kami karena gereja penyesat tersebut, namun saya berusaha untuk mengingatnya kembali supaya saya berdoa kembali sesuai dengan kehendak Kristus.

 

Matius 6:16-18 dalam hal berpuasa juga jangan sampai orang lain melihat bahwa kita sedang berpuasa, biarlah kegiatan keagamaan kita itu berjalan dengan privasi yang ketat, tidak ada mata yang memandang sehingga mereka memuji-muji kita. Pada kenyataannya, banyak orang kristen yang justru memberitahukan secara terang-terangan kepada orang lain bahwa mereka sedang berpuasa, bahkan menunjukkan kelemahan mereka bahwa mereka sedang berpuasa dan tidak segan menceritakan pengalaman berpuasa mereka sehingga banyak orang yang memuji mereka. Mereka sangat bangga dengan cara berpuasa seperti itu namun Tuhan Yesus tidak mengindahkan berpuasa seperti itu.

 

Matius 6:19- 24 mengajarkan kepada kita untuk mengumpulkan harta di muka bumi ini, Tuhan memfokuskan kita untuk mengumpulkan harta di sorga. Mengapa? Karena hati manusia sangat menyayangi harta yang di milikinya, seperti seorang muda yang kaya yang ingin sempurna itu, ketika Tuhan Yesus memerintahkannya untuk menjual hartanya pemuda tersebut tidak merelakannya, hal ini membuktikan bahwa manusia lebih menyayangi harta daripada Tuhan Yesus, oleh karena itu Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk tidak menyayangi harta dunia. Namun kenyataannya, justru ajaran teologi kemakmuran berkembang pesat dalam kekristenan dan banyak jemaat yang mengikuti ajaran ini, mereka justru lebih memilih harta dunia daripad mengikut Kristus, oleh karena itu tidak heran jika lagu doa Yabes lebih populer daripada Doa Bapa Kami, karena mereka lebih memilih harta dunia, hati mereka sebenarnya tertuju padanya.

 

Matius 6:25-34 mengajarkan kepada kita untuk tidak khawatir, namun justru kenyataannya banyak dari kita yang khawatir akan dunia ini. Pada masa pandemi Covid-19 sendiri banyak orang kristen yang khawatir takut kehilangan pekerjaannya, jika hilang pekerjaan maka mereka khawatir mau makan apa, mau pakai apa. Kekhawatiran melanda setiap umat yang percaya, apakah kita sungguh-sungguh mentaati ajaran Kristus?

 

Matius 7:1-4 mengajarkan kepada kita untuk tidak menghakimi sesama, namun ayat ini di ajarkan tanpa memperhatikan detail perkataan Tuhan Yesus, sehingga kita tidak boleh menghakimi sama sekali. Padahal sebenarnya kita boleh menghakimi sesama kita dengan syarat yang tertulis pada ayatnya yang ke 4 di mana kita harus bertobat terlebih dahulu, atau segala penghakiman yang akan kita lontarkan itu, penghakiman itu tidak berbalik arah kepada kita, mengapa? Karena apa yang kita hakimi maka penghakiman itu akan berbalik kepada kita. Contohnya, jika kamu menghakimi orang lain “kamu telah berdosa karena melukai hatinya” maka kamu harus merenungkan terlebih dahulu apakah dulu kamu pernah hati orang apa tidak, jika ia maka kamu tidak pantas menghakimi hal tersebut karena kamu adalah pendosa. Oleh karena itu untuk menghakiminya maka pastikan bahwa kamu sendiri tidak pernah sama sekali menyakiti perasaan orang barulah kamu boleh menghakimi mereka.

 

Namun pada kenyataannya banyak orang kristen juga dan hamba-hamba Tuhan yang menghakimi tanpa memperhatikan dosa-dosa mereka, mereka telah melanggar ketetapan Tuhan ini. Saya sendiri dihakimi “mana kasihmu?” padahal orang yang menghakimi saya sendiri tidak punya kasih, layakkah orang yang tidak punya kasih mempertanyakan kasih yang ada padaku? Tidak layak! Oleh karena itu dalam menghakimi pastikan apa yang kita hakimi keorang hal itu tidak berlaku bagi kita.

 

Lalu setelah mengajarkan tentang penghakiman keluarlah pernyataan ini dari mulut yesus;

7:6 "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu."

 

Untuk menafsirkan ayat ini maka kita harus memperhatikan konteksnya, konteks dari ayat ini sendiri berbicara mengenai penghakiman, dan bagaimana penghakiman itu seharusnya dilakukan. Maka dengan demikian yang di maksud dengan barang yang kudus dan mutiara pada ayat itu ialah berbicara mengenai penghakiman, penghakiman yang benar karena di simbolkan sebagai barang yang kudus. Jangan kita memberikan penghakiman kita yang benar tersebut yang berlandaskan kebenaran firman Tuhan kepada mereka yang di simbolkan sebagai anjing dan babi, anjing dan babi ini adalah mereka yang menolak untuk di hakimi lalu menyerang balik yang menghakimi. Kepada orang-orang tersebut kita di peringatkan untuk tidak menghakimi mereka.

 

Matius 7:7-10 mengajarkan kepada kita tentang pengabulan doa, ayat 12-14 menjelaskan bahwa jalan kebenaran itu sempit dan sesak sedangkan jalan menuju kebinasaan itu luas dan lebar jalannya. Karena memang untuk masuk kedalam kerajaan sorga maka kita harus sesuai dengan kehendak Allah, kita tidak bisa masuk seenaknya saja. Makanya Tuhan Yesus mengajarkan hal-hal demikian supaya kita menuju kepada kemuliaan Allah daripada kebinasaan.

Ayatnya yang ke 15-23 memperingatkan kepada kita mengenai kehadiran dari nabi-nabi palsu yang bekerja demi nama Tuhan tetapi sebenarnya mereka adalah pelaku kejahatan. Di katakan bahwa mereka itu bernubuat, mengusir setan, mengadakan mujizat demi nama Tuhan, namun karena mereka adalah nabi-nabi palsu maka Tuhan yesus mengusir mereka, Ia tidak mengenal mereka.

 

Namun pada saat ini justru umat-umat kristen tidak memperhatikan peringatan Tuhan Yesus yang terang benderang ini, justru mereka jatuh pada penyesatan nabi-nabi palsu tersebut, dan menjadikan mereka sebagai pendeta idola, mereka di puji-puji karena telah melakukan mujizat. Banyak umat kristen yang lebih memilih mereka dari pada jalan kebenaran, mereka dengan sadar memberi diri mereka disesatkan, mengapa saya mengatakan demikian? Jelas karena peringatan Tuhan Yesus sudah tertulis di alkitab namun orang kristen tetap saja membandel mengikuti mereka yang mengadakan mujizat-mujizat tersebut.

 

Penutup

Lalu setelah semuanya itu, apakah kita orang kristen yang bijaksana? Atau kita adalah orang yang bodoh? Berdasarkan kenyataan dan pengajaran Tuhan Yesus Kristus, ada banyak sekali orang kristen yang merupakan orang kristen yang bodoh seperti yang di kotbahkan Kristus pada ayatnya yang ke 26-27, hal ini karena mereka banyak melanggar pengajaran-pengajaran Kristus. 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak