Apa Itu Alkitab Menurut 2 Timotius 3:16?
Pendahuluan
Alkitab adalah kitab suci yang di yakini orang-orang kristen sebagai kitab yang mencatat kebenaran sejati. Banyak yang menganggap bahwa alkitab adalah pedoman hidup, buku manual tentang kehidupan layaknya buku manual yang selalu ada setiap pembelian barang elektronik. Buku paduan tersebut akan memberitahu kita langkah-langkah untuk membuat teknologi yang kita beli tersebut berhasil. Alkitab juga demikian, ia memberi kita langkah-langkah untuk memberi kita pengetahuan akan surga, pengetahuan akan cara hidup dalam kehendak Tuhan dan memperoleh jalan keselamatan, semua langkah tersebut tercatat dengan baik dalam alkitab, maka tidak heran jika banyak orang kristen yang menganggap alkitab sebagai buku manual kehidupan. Namun bagaimana alkitab menjelaskan tentang dirinya sendiri? Apa itu alkitab?
Pembahasan
2 Timotius 3:16 memberikan kepada kita pengetahuan yang benar-benar jelas mengenai alkitab. Di katakan bahwa:
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”
Berdasarkan firman tersebut maka alkitab itu adalah tulisan yang di ilhamkan oleh Allah, jadi alkitab bukanlah karya atau karangan manusia melainkan dalam proses penulisan yang di kerjakan oleh tangan manusia ini ada campur tangan pewahyuan Allah, oleh karena itu alkitab ini adalah sebuah kebenaran, ia bukanlah hasil pemikiran manusia karena ia adalah karya Allah, hak cipta alkitab hanyalah milik Allah sendiri, namun banyak orang kristen saat ini dengan modal terjemahan alkitab saja sudah berani mengklaim hak cipta.
Hasil terjemahan manusia ini tidak pantas untuk mendapatkan hak cipta karena mereka mencurinya dari karya Allah, mereka hanya memparafrasekan dengan bahasa mereka sendiri dan penafsiran mereka pun belum tentu benar seperti yang di wahyukan Allah, tentu tiruan murahan tidak akan menjadi sempurna dengan karya Allah yang sebenarnya. Jadi berdasarkan ayat ini, saya sangat tidak setuju bahwa alkitab yang merupakan terjemahan manusia itu harus memiliki hak cipta, mengapa? Karena mereka hanya penerjemah, penerjemah dari karya Allah. Masakan seorang penerjamah justru memiliki hak cipta ketimbang Allah yang mengilhami-Nya?
Menurut saya justru orang-orang kristen malah berusaha mencuri firman Allah dan mengubahnya kedalam penafsirannya masing-masing yang bisa saja membawa kepada penyesatan. Kita tahu sendiri bahwa penafsiran yang mereka lakukan ini tidak di bawah ilham Allah tetapi berdasarkan pengetahuan manusia yang tidak sempurna. Karena kebiasaan manusia dalam dosa mereka suka mencuri dan mengubah kebenaran firman Tuhan, dan pada masa kini yang saya menjengkelkan ialah adanya alkitab khusus untuk mereka yang pro terhadap komunitas LGBT.
King James Version adalah salah satu versi terjemahan yang populer, banyak sekali yang menggunakan terjemahan ini dan saya sendiri juga menggunakan terjemahan ini. Saya merekomendasikan terjemahan ini karena terjemahan ini mendekati teks asli dari manuscript alkitab. Namun tetap kita harus berhati-hati dengan versi yang lainnya karena terjemahannya bisa saja menyimpang dari maksud teks asli alkitab.
Salah satu alkitab yang jauh menyimpang dari kebenaran ialah The Queen James Bible, alkitab ini lebih populer dengan nama gay bible. Alkitab ini di terjemahkan sesuka hati oleh manusia bejat yang mensupport komunitas menjijikan yaitu LGBTQ, kehadiran gay bible ini adalah kemerosotan manusia, bukti bahwa manusia itu sesuka hati mengambil firman Tuhan, menterjemahkannya sesuka hati dan menjadikannya milik pribadi. Penting sekali bagi kita untuk memperhatikan terjemahan-terjemahan yang beredar saat ini, apakah kita membaca dongeng? Atau kebenaran?
Dalam 2 Timotius 3:16 di jelaskan bahwa alkitab itu sangat bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Karena alkitab adalah wahyu Allah maka sudah pasti kebenaran adanya. Ia bermanfaat untuk menyatakan kesalahan, oleh karena itu ketika kita ingin melihat suatu kesalahan maka kita sebagai orang kristen tidak boleh mengandalkan kekuatan pikiran kita, karena pikiran kita begitu subjektif, buktinya saja alkitab itu sendiri di terjemahkan dalam begitu banyak versi, itu adalah salah satu bukti bahwa pikiran manusia itu sangat subjektif. Bukan hanya subjektif, kita telah di pengaruhi oleh dosa, maka pikiran kita di penuhi oleh hal-hal yang berdosa di bandingkan hal-hal yang suci. Maka penting sekali bagi kita untuk membuktikan kesalahan-kesalahan kita berdasarkan kebenaran firman Tuhan dan bukan berdasarkan omongan manusia yang sok bijak padahal berhati bajingan.
Seperti halnya dalam kasus LGBT, apakah LGBT benar menurut ilham Allah? Roma 1:26-27 menjelaskan bahwa LGBT adalah hawa nafsu yang memalukan, jadi alkitab sendiri menjelaskan bahwa LGBT adalah noda, hawa nafsu yang harus kita hindari karena itu tidak wajar. LGBT bukanlah kebiasaan yang wajar dalam alkitab dan alkitab menentangnya. Berdasarkan konteks ayat tersebut, maka perilaku LGBT itu sendiri adalah hukuman Allah yang diberikan kepada manusia-manusia durhaka.
Alkitab juga bermanfaat untuk memperbaiki kelakuan kita, sudah berulang kali alkitab mencatat kepada kita untuk jangan berdosa, kita harus menjauhi dosa. Alkitab mencatat perbuatan-perbuatan daging dalam Galatia 5:19-21 yang harus kita hindari. Alkitab mengajarkan kita untuk hidup didalam roh Galatia 5:22-23, jadi jelas sekali bahwa alkitab mengajar kita untuk memperbaiki kelakuan kita untuk menjadi lebih baik lagi.
Alkitab mendidik orang dalam kebenaran karena ada hikmat-hikmat yang tercatatnya seperti amsal Salomo, hikmat yang di terimanya tidak hanya terdiam dalam pikiran-pikirannya, Salomo menuliskannya dan mengajarkannya kepada kita hikmat, hikmat yang ia dapat itu berasal dari Allah, wahyu dari Allah.
Oleh karena itu maka biarlah alkitab yang menjadi hakim atas kita pribadi masing-masing karena dialah yang menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar, jangan biarkan pikiran kita yang menghakimi orang-orang secara sepihak. Karena alkitab tidak dapat berbicara karena ia merupakan benda mati, maka perlu seseorang untuk menjadi pembicara kebenaran, seseorang yang mengetahui kebenaran firman Tuhan sebagai penyampai keputusan dari alkitab. Jadi jika ada orang yang menghakimi orang berdasarkan kebenaran firman Tuhan, maka sebenarnya orang itu tidak sedang menghakimi, melainkan ia hanya menyampaikan kebenaran firman Tuhan, karena ia menggunakan firman Tuhan maka alkitab itulah sang hakim dan penyampai hanya sekedar pembicara yang mengetahui kebenaran firman Tuhan.
Namun banyak orang kristen yang tidak mau di hakimi, sehingga ajaran ngawur jangan menghakimi terus-menerus di serukan di mimbar-mimbar sehingga jemaat pun di doktrin secara salah, selama seseorang menghakimi orang lain dengan dasar kebenaran maka orang itu tidak menghakimi, melainkan alkitablah yang menghakimi karena alkitab itu menyatakan kesalahan orang-orang.
Penutup
Alkitab yang kita pengang dan yakini ini merupakan hasil dari ilham Allah yang sangat bermanfaat dalam membawa kita kepada pertobatan, jadi alkitab berdasarkan 2 Timotius 3:16 ini memang sebuah penuntun bagi kita untuk menuju kepada jalan yang benar. Namun banyak hamba-hamba Tuhan yang mengajar alkitab bukan untuk membawa jemaat kepada pertobatan sebagaimana manfaatnya, namun justru mereka membawa jemaat jatuh kedalam dosa yang semakin lebih dalam lagi, karena yang di ajarkan adalah ajaran-ajaran sesat, mereka menambah-nambahkan firman Tuhan dan mengurang-ngurangi kebenarannya. Oleh karena itu banyak sekali jemaat yang hanya bermodalkan iman dan tak memiliki pemahaman teologi yang baik, sehingga dengan demikian mereka sangat mudah sekali di tipu oleh guru-guru palsu tersebut.
Jadi, jika ada orang yang mengajar firman Tuhan lalu tidak membawa orang-orang tersebut kedalam pertobatan sesuai dengan manfaatnya maka orang tersebut telah menyeleweng kebenaran firman Tuhan, kita tidak boleh meyakini, mengimani setiap kotbah yang terlontar dari mulut mereka, karena mereka adalah penyesat yang sudah di peringatkan akan kehadirannya oleh firman Tuhan.
