Pendahuluan
Kali ini saya ingin membahas perihal menyangkal diri dalam mengikut Yesus, sejujurnya khotbah semacam ini sudah sangat jarang sekali terdengar di mimbar, seruan untuk menyangkal diri telah mulai lenyap saya tidak tahu mengapa, yang pasti itulah yang terjadi selama saya beribadah.
Biasanya pendeta hanya berkhotbah tentang bagaimana jemaat harus berperilaku dengan baik, menjadi pribadi kristen yang benar. Jemaat menjadi pusat perhatian soal perilaku, tetapi tidak ada yang memperhatikan perilaku hamba Tuhan, akhirnya banyak hamba Tuhan yang jatuh ke dalam dosa, dan di dalam dosa-dosanya. Oleh karena itu artikel ini akan membahas mengenai perilaku-perilaku hamba Tuhan, supaya terjadi keseimbangan dalam perhatian di tubuh Kristus.
Pembahasan
Dalam mengikut Tuhan maka penting sekali bagi kita untuk menyangkal diri, apa itu artinya menyangkal diri? Menyangkal diri dalam bahasa Yunaninya adalah aparneomai artinya untuk melupakan dirinya dan melupakan kepentingannya. Ada contoh-contoh yang jelas dalam alkitab perihal menyangkal diri ketika ingin ikut Tuhan Yesus;
Matius 19:16-26 ada seorang muda yang kaya bertanya kepada Tuhan Yesus “apakah yang harus ku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” kita ketahui bahwa untuk memperoleh hidup yang kekal adalah dengan mengikut Tuhan Yesus Yohanes 3:16 mengatakan “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Namun Tuhan Yesus berniat untuk menguji anak muda tersebut dengan mengatakan bahwa untuk selamat harus melakukan hukum Taurat.
Lalu orang muda itu berkata dengan berani bahwa ia telah melakukan semua hukum Taurat, dan bahkan dengan beraninya ia mengatakan apa yang masih kurang? Reaksi dari Tuhan Yesus pun memberi perintah demikian “…pergilah, juallah segala milikmu…” pesan untuk menyangkal diri pun keluar dari mulut Tuhan Yesus.
Dalam mengikut Tuhan Yesus penting sekali bagi kita untuk menyangkal diri, mengapa? Karena dengan demikian kita tidak lagi melihat kebelakang tetapi apa yang ada di depanlah yang kita tuju, yaitu keselamatan kita. Namun hingga saat ini banyak sekali hamba-hamba Tuhan yang masih belum menyangkal diri dalam mengikut Tuhan Yesus.
Menyangkal diri berarti kita siap untuk menderita bagi Kristus, kita siap meninggalkan apa yang ada di belakang kita, mungkin keluarga, adat-istiadat, jabatan, kekayaan dan sebagainya. Mengikut Tuhan berarti kita harus rela meninggalkan semuanya. Namun saat ini, saya perhatikan masih ada hamba-hamba Tuhan yang tidak menyangkal dirinya, mereka masih mengikuti kebiasaan-kebiasaannya yang lama.
Mereka sangat memperhatikan seseorang dari sukunya; “suku apa dia? Apa marganya?” jika kedapatan satu suku dan satu marga maka hamba Tuhan tersebut menjadi sangat senang dengan orang yang di bicarakan tersebut, dan tentu di perlakukan dengan baik oleh hamba Tuhan tersebut, hanya karena persoalan marga yang sama. Hal ini merupakan fakta bahwa banyak yang masih belum menyangkal dirinya, banyak yang masih mempertahankan keluarganya meskipun ia telah mengikut Tuhan Yesus, namun hal-hal keduniawian ini masih di pelihara. Akhirnya sikap mereka pun berbeda terhadap sesamanya dengan mereka yang tidak sesamanya, mereka menjadi pilih kasih dalam persaudaraan. Sikap-sikap seperti ini tentu akan membuat persoalan di dalam jemaat Allah.
Perintah untuk menyangkal diri sebenarnya bertujuan untuk memikul salib yang hanya dari pada Tuhan Yesus saja. Kita tidak lagi memikul salib dunia, tetapi salib Kristuslah yang harus berada di pundak kita. Matius 11:29-30 “Pikullah kuk yang ku pasang dan belajarlah pada-Ku”. Selain mendapat pengajaran, kita juga akan mendapatkan ketenangan yang hanya daripada Allah saja, karena kuknya itu ringan. Kuk yang dari Tuhan Yesus itu ringan karena yang harus kita lakukan ialah justru untuk meringankan beban kita, dengan cara menyangkal diri, meninggalkan segala keduniawian yang ada, lalu hidup menderita. Karena pikul salib/kuk berbicara mengenai beban penderitaan, bukan beban kenikmatan dunia, “jiwamu akan mendapat ketenangan” karena jaminan keselamatan sudah pasti ada di tangan kita.
Rasul Paulus setelah mengikut Yesus dan bertobat maka hal yang ia lakukan selanjutnya adalah dengan menyangkal diri dan memikul salibnya. Dalam penyangkalan dirinya, ia meninggalkan semuanya yang telah ada padanya dan memulainya kembali dari awal sebagai seorang kristen, namun karena ia mendapat misi khusus maka ia menjadi seorang kristen yang memiliki jabatan rasuli.
2 Korintus 6:4-5 Paulus sendiri dalam mengikut Tuhan Yesus ia telah melewati banyak penderitaan, ia tidak menjadi orang kristen yang nyaman. Penuh penderitaan yang ada di dalam ia mengiring Tuhan. Namun saya tidak melihat banyak hamba Tuhan di kota-kota yang mengalami penderitaan selama mengikut Yesus, mereka yang menderita hanyalah yang berada di pedesaan, penderitaan mereka pun sebenarnya hanyalah persoalan uang. Mengapa banyak hamba Tuhan yang hidup di perkotaan hidup di dalam kenyamanan daripada penderitaan? Karena mereka tidak berani menjual harta mereka dalam mengiring Tuhan, mereka tidak berani menyangkal dirinya, tidak berani memikul salib dan menderita.
Jemaat-jemaat Allah, biarlah pandangan anda tertuju kepada gembala lokal yang melayani kalian, perhatikan setiap langkah mereka, jika mata anda jeli maka anda akan melihat bahwa mereka belum sama sekali menyangkal diri mereka. Gereja besar, rumah bertingkat, mobil mewah, pakaian mewah dan sebagainya ada padanya, padahal kalau mau ikut Yesus harus menyangkal diri, harus menjual hartanya, namun mereka tidak menyangkal dirinya, mereka tidak mau memikul kuk/salib, mereka tidak mau menderita bagi Kristus.
Paulus sebelum bertobat adalah seorang anak didik Gamaliel, ia seorang Yahudi, ia dulunya adalah penganiaya jemaat-jemaat Allah (Kis. 22:3-4; Filipi 3:5-6), soal mentaati Taurat ia adalah orang yang tak bercacat. Lalu Paulus menyatakan bahwa “tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus (ayat 7)”. Paulus dalam mengikut Yesus ia telah menyangkal dirinya, ia melupakan semuanya, dan selama ia menjadi orang kristen ia hidup dalam penderitaan (2 Kor. 6:4-5).
Beranikah hamba-hamba Tuhan untuk menyangkal diri dalam mengikut Kristus? Melupakan cara hidup yang lama dan memikul salib Kristus? Sehingga dengan demikian hidup anda hanyalah penderitaan? Beranikah anda menjual semua kekayaan yang anda miliki saat ini? Saya rasa anda tidak berani melakukan hal demikian. Mengapa? Dengan memerintahkan anak anda sebagai penerus dalam pelayanan anda adalah suatu bentuk bahwa anda tidak merelakan gereja anda yang besar tersebut, anda tidak rela menjualnya, akhirnya masa depan anak anda menjadi korbannya. Hal tersebut menunjukkan anda belum siap dalam pikul salib, belum siap dalam menyangkal diri, itu artinya anda masih hidup menurut kebiasaan-kebiasaan lama. Untuk itu sebaiknya anda juga harus bertobat, bertobatlah! Mulailah menyangkal diri, memikul salib dan siap untuk menderita.
Yohanes 15:18 mengatakan bahwa kalau dunia membenci kita maka kita harus mengingat bahwa dunia telah membenci Kristus, jika Kristus menderita maka seharusnya kita juga ikut menderita. Matius 5:10 menjelaskan bahwa orang yang menderita akan kebenaran akan beroleh kerajaan sorga, mengapa demikian? Karena yang menderita adalah mereka yang hidup dalam kekudusan (2 Tim. 3:12).
Lukas 9:25 Tuhan Yesus mengatakan “apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” oleh karena itu penting sekali untuk menyangkal diri dan melepaskan segala beban dunia dan menggantikannya dengan salib Kristus.
Oleh karena itu, marilah hamba-hamba Tuhan untuk menyangkal diri, memikul salib dan siap menderita di dalam Kristus, karena itulah yang di kehendaki oleh kebenaran firman Tuhan, jangan hanya terfokus kepada persoalan jemaat, tetapi perhatikan jugalah kepada diri masing-masing, pastikan bahwa kalian hamba Tuhan tetap berada dalam jalan kebenaran, dan jangan sekali-kali menyimpang daripadanya, ingat dalam 1 Timotius 3 menjelaskan bahwa hamba Tuhan itu tidak boleh cacat dalam perilakunya.
Penutup
Layaklah di hadapan Allah, siap sedialah dalam hidup yang penuh dengan penderitaan seperti rasul Paulus, pikullah salib dan kuk Kristus tersebut, sangkallah diri anda, buang segala-galanya lalu ikut Yesus. Mari, bersama-sama dengan jemaat Allah kita menderita karena kristus.
Jangan di dalam sebuah persekutuan status ekonomi hamba Tuhan justru lebih besar dari jemaat, jangan ada hamba Tuhan mengenakan jam Rolex sedangkan jemaat Allah ada yang tidak bisa membeli jam. Jangan biarkan anda hidup dalam kenyamanan sedangkan jemaat hidup dalam penderitaan. Tetapi marilah kita bersama-sama hidup menderita di dalam kasih Kristus.
